Selasa, 30 Mei 2023

Kotak Beludru

 

Kotak Beludru

Oleh : Erika Juliati

 

Matahari di ufuk barat kian meredup menandakan akan berakhirnya waktu siang. Semilir angin berhembus menusuk rongga dada membuat linu sekujur tubuhku. Rambutku bergerak dengan lincahnya mengikuti lajunya arah angin. Rumput – rumput di sana sepertinya tak mau kalah. Mereka bergoyang secara beriringan mengikuti arah angin . Suasana sore yang cerah bertolak belakang dengan isi hatiku saat ini. Bagaimana mungkin aku merasa biasa saja ketika orang yang dicintai meninggalkan kita lima tahun lamanya tanpa kabar. Apakah dia di sana baik- baik saja atau malah sebalikanya. Apakah dia masih mengingatku di sini. Aku yang selalu menunggu kepulangannya. Apakah dia merindukanku selayaknya aku merindukannya. Memikirkan semua itu hanya membuatku semakin larut dalam kesedihan.

Aku memutuskan untuk beranjak dari gubug yang aku duduki. Berjalan menyusuri sawah yang ditanami padi dengan langkah berat. Setiap aku merasa sedih aku selalu singgah di gubug itu. Berada di sana membuatku merasa nyaman dan tenang.

Dari jauh terlihat rumahku yang ramai dikunjungi banyak orang. Dalam hati ku bertanya-tanya ada apakah ini. Apakah Ayah dan Ibu baik – baik saja. Dengan pikiran kacau Aku bergegas menuju rumah.

“Ada apa ini Bu?”  tanyaku penasaran

“Begini nak, nak Sofyan ingin meminangmu apakah kamu mau menerima ?” tanya Ibuku lembut

Tentu saja itu membuatku tersentak dan tidak menyangka bahwa akan ada seorang pria yang meminangku. Pikrianku tertuju pada satu titik. Dia. Jika Aku menerima lamaran ini, bagaimana dengan dia. Haruskah penantianku kandas di tengah jalan akan sia-sia. Aku hanyut dalam pikiranku dan menerka apa yang akan terjadi setelah ini.

“Nak berikan keputusanmu” kini giliran Ayahku yang angkat bicara

“Maaf Ayah, Ibu aku tidak bisa menerima ini” kataku lemas dan tidak enak hati

“Mengapa anakku, mengapa kau menolaknya ? Bukankah kamu belum mempunyai dambaan hati selama ini? ”

“Maaf Ayah, tapi aku sudah mempunyainya” kataku berbohong. Tapi tidak sepenuhnya berbohong karena memang aku menjaga hati untuk satu orang yang sekarang entah berada di mana. Lima tahun menghilang bak ditelan bumi dan tidak meninggalkan sepatah katapun.

“Kenapa kau tidak mengenalkannya pada Ibumu atau setidaknya bawalah dia ke rumah” kata Ibuku lagi

“Maaf” hanya kata itu yang keluar dari mulutku setelah itu.

Kemudian Ayah dan Ibuku meminta maaf sebesar-besarnya kepada keluarga Sofyan karena menolak lamaran ini. Sungguh aku tidak enak hati karena kebaikan keluarganya dan kebaikan Sofyan padaku tentunya. Tapi ada hati yang harus aku jaga. Bukankah cinta tidak bisa di paksakan bagaimana pun keadaanya ?

Malam harinya aku termenung meratapi keputusan yang ku buat tadi. Apakah aku mengambil langkah yang tepat untuk ini. Menjaga hati untuknya yang sampai saat ini tidak ada kabar. Dia yang sekarang entah bagaimana keadaanya. Aku merasa benar-benar dibutakan oleh rasa cinta ini. Aku berdoa semoga saja penantianku ini tidak sia-sia.

Tepat sudah lima tahun waktu berjalan. Waktu yang tidak bisa dibilang singkat. Lima tahun aku habiskan mengisi hari-hariku dengan kesibuan. Terakadang aku juga memikirkan dia yang entah memikirkanku juga atau tidak. Akankah nasib cintaku berakhir dengan tragis atau malah sebaliknya.

Aku berjalan menuju tempat yang sekarang menjadi persinggahanku. Tepat sekali, sebuah gubug di sawah yang setiap hari aku singgahi akhir-akhir ini. Siang ini matahari sangat terik dan aku rasa mentari berjalan mengikuti setiap langkahku. Tak terasa peluh menetes ke jalan aspal dan menguap terkena paparan cahaya sang surya. Aroma aspal yang menyengat tidak menyurutkan niatku untuk sekedar singgah di gubug itu.

Aku duduk termenung dan lagi-lagi meratapi nasibku yang malang ini. Dapat aku lihat burung di sana memakan padi yang sudah mulai menguning itu. Aku dapat merasakan kebahagaiaan mereka karena bisa makan dengan kenyang hari ini.

Saat sedang asiknya melamun tak kusadari hari sudah mulai sore. Aku beranjak dan memutuskan untuk pulang. Namun dalam perjalanan pulang aku merasa ada yang mengikutiku di belakang. Dengan rasa was-was aku tetap berjalan. Kupercepat langkahku karena rasa takut menyelimuti tubuhku. Hawa dingin merasuki tubuhku yang dibanjiri oleh peluh keringat.

“Senja” panggil orang yang berada dibelakangku

Deg tubuhku rasanya kaku dan linu. Suara itu, suara yang aku nanti selama ini. Suara yang aku rindukan akhir- akhir ini, suara yang ingin sekali aku dengar saat ini.  Aku mencoba membalikkan badan untuk memastikan bahwa aku tak salah dengar namun sangat berat. Dengan susah payah aku menghadap kebelakang dan melihatnya.

Tapi memang benar itulah orangnya. Ku tatap matanya. Tatapan yang penuh dengan kelembutan,tatapan hangat yang sangat aku rindukan. Oh Tuhan apakah benar orang yang berada di depanku adalah orang yang aku rindukan selama lima tahun ini. Dia sudah berbeda dan terlihat dewasa sekarang. Kini bibirnya ditumbuhi rambut halus tipis. Namun aroma maskulin yang sangat aku hafal masih melekat di tubuhnya dan masuk menyeruak di rongga hidungku. Alisnya yang tebal dan hampir menyatu menambah kesan manis pada dirinya.

Tanpa ku sadari buliran kristal terjun bebas dari pelupuk mata. Memang benar dia orang yang aku rindukan saat ini. Aku harap ini bukan sekedar dari indahnya bunga tidur. Aku harap ini adalah kenyataan.

“Aku datang kesini bukan untuk melihatmu menangis Senja” katanya lagi

“Mas ” panggilku dengan suaraku tercekat di tenggorokan

Aku menatap matanya dalam, dengan menatap matanya hatiku terasa tenang. Tatapanya yang lembut seakan membiusku dan membawaku ke dunia lain yang lebih menarik.

“Maafkan aku tidak berpamitan denganmu dulu ” kataya penuh sesal

“Semudah itu Mas meminta maaf padaku. Apa Mas tau rasanya menunggu selama lima tahun tanpa kabar dan tanpa kepastian hah!” kataku sedikit emosi. Buliran bening terus berjatuhan di pipiku.

“Apa Mas tau ada seorang pria yang meminangku tempo hari lalu” kataku lagi dengan nada lirih

“Apakah kamu menerima pinangan pria itu Senja?” Mas Andre bertanya dengan nada gelisah

Tidak Mas, karena hanya Mas yang Aku tunggu selama lima tahun ini”

Dapat kulihat Mas Andre menghembuskan nafasnya dengan lega. Dia juga memberikan senyum manisnya yang aku yakini dapat melelehkan orang yang melihatnya termasuk diriku.

“Sudah ayo kita pulang, hari sudah petang” katanya sembari menggandeng tanganku

Aku bungkam tidak tau harus berkata apapun lagi. Aku pasrah tanganku digenggam erat olehnya. Sepertinya dia tidak ingin Aku jauh darinya.

Aku terdiam melihat rumahku yang ramai seperti sebelumnya. Sempat terlintas di pikiranku akan ada orang yang melamarku lagi. Jika itu terjadi jelas aku akan menolaknya bagaimanapun juga. Karena Mas Andre sudah di sisiku lagi saat ini.

“ Kenapa rumahku ramai Mas ?” kataku akhirnya

“Ayo kita kedalam saja, nanti kamu akan tau jawabanya” jawabnya membuatku makin penasaran.

Dan tiba-tiba semua gelap, hanya beberapa lampu dan lilin yang menyala. Lensa mataku dapat menangkap tulisan di dinding yang sedari tadi ditutupi oleh tirai. Tetapi tidak terlihat jelas dan aku tidak bisa membacanya. Baru aku sadari Mas Andre yang sedari tadi di dekatku pegi entah kemana.

Tiba-tiba lampu menyala dan Mas Andre sudah berada di depan sebuah tulisan ‘Senja Ulia Khasanah Will You Marrie Me’ dengan membawa kotak berwarna beludru. Terpampang jelas sekarang tulisan yang sulit terbaca tadi.

“Senja Aulia Khasanah will you marie me ” katanya lantang

Aku hanya terdiam membisu. Apakah ini mimpi atau kenyataan. Jika ini mimpi, siapapun tolong jangan bangunkan Aku dari mimpi indah ini.

“Senja Aulia Khasanah will you marie me ” katanya untuk kedua kalinya

Ramai orang berkata “Ya” dan akhirnya aku tersadar  dari lamunanku.

“Ya” kataku malu-malu. Dia memelukku erat dan aku membalasnya lebih erat.

Aku sangat bahagia. Penantianku selama lima tahun terbayar oleh sebuah cincin yang dipasang di jari manisku. Penantianku selama ini tidak terbuang sia-sia. Air mata duka dan rindu yang menggebu berganti tangis kebahagiaan. Terimakasih Tuhan, berkatmu aku dapat disatukan kembali dengannya selama lima tahun tidak berjumpa dan bertemu sapa. Pada akhirnya aku merasa bahagia.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar