Kotak Beludru
Oleh : Erika Juliati
Matahari
di ufuk barat kian meredup menandakan akan berakhirnya waktu siang. Semilir
angin berhembus menusuk rongga dada membuat linu sekujur tubuhku. Rambutku
bergerak dengan lincahnya mengikuti lajunya arah angin. Rumput – rumput di sana
sepertinya tak mau kalah. Mereka bergoyang secara beriringan mengikuti arah
angin . Suasana sore yang cerah bertolak belakang dengan isi hatiku saat ini.
Bagaimana mungkin aku merasa biasa saja ketika orang yang dicintai meninggalkan
kita lima tahun lamanya tanpa kabar. Apakah dia di sana baik- baik saja atau
malah sebalikanya. Apakah dia masih mengingatku di sini. Aku yang selalu menunggu
kepulangannya. Apakah dia merindukanku selayaknya aku merindukannya. Memikirkan
semua itu hanya membuatku semakin larut dalam kesedihan.
Aku
memutuskan untuk beranjak dari gubug yang aku duduki. Berjalan menyusuri sawah
yang ditanami padi dengan langkah berat. Setiap aku merasa sedih aku selalu
singgah di gubug itu. Berada di sana membuatku merasa nyaman dan tenang.
Dari
jauh terlihat rumahku yang ramai dikunjungi banyak orang. Dalam hati ku
bertanya-tanya ada apakah ini. Apakah Ayah dan Ibu baik – baik saja. Dengan
pikiran kacau Aku bergegas menuju rumah.
“Ada
apa ini Bu?” tanyaku penasaran
“Begini
nak, nak Sofyan ingin meminangmu apakah kamu mau menerima ?” tanya Ibuku lembut
Tentu
saja itu membuatku tersentak dan tidak menyangka bahwa akan ada seorang pria
yang meminangku. Pikrianku tertuju pada satu titik. Dia. Jika Aku menerima
lamaran ini, bagaimana dengan dia. Haruskah penantianku kandas di tengah jalan akan sia-sia. Aku hanyut dalam pikiranku dan menerka apa yang akan terjadi
setelah ini.
“Nak
berikan keputusanmu” kini giliran Ayahku yang angkat bicara
“Maaf
Ayah, Ibu aku tidak bisa menerima ini” kataku lemas dan tidak enak hati
“Mengapa
anakku, mengapa kau menolaknya ? Bukankah kamu belum mempunyai dambaan hati selama
ini? ”
“Maaf
Ayah, tapi aku sudah mempunyainya” kataku berbohong. Tapi tidak sepenuhnya
berbohong karena memang aku menjaga hati untuk satu orang yang sekarang entah
berada di mana. Lima tahun menghilang bak ditelan bumi dan tidak meninggalkan
sepatah katapun.
“Kenapa
kau tidak mengenalkannya pada Ibumu atau setidaknya bawalah dia ke rumah” kata
Ibuku lagi
“Maaf”
hanya kata itu yang keluar dari mulutku setelah itu.
Kemudian
Ayah dan Ibuku meminta maaf sebesar-besarnya kepada keluarga Sofyan karena
menolak lamaran ini. Sungguh aku tidak enak hati karena kebaikan keluarganya
dan kebaikan Sofyan padaku tentunya. Tapi ada hati yang harus aku jaga. Bukankah
cinta tidak bisa di paksakan bagaimana pun keadaanya ?
Malam
harinya aku termenung meratapi keputusan yang ku buat tadi. Apakah aku
mengambil langkah yang tepat untuk ini. Menjaga hati untuknya yang sampai saat
ini tidak ada kabar. Dia yang sekarang entah bagaimana keadaanya. Aku merasa
benar-benar dibutakan oleh rasa cinta ini. Aku berdoa semoga saja penantianku
ini tidak sia-sia.
Tepat
sudah lima tahun waktu berjalan. Waktu yang tidak bisa dibilang singkat. Lima
tahun aku habiskan mengisi hari-hariku dengan kesibuan. Terakadang aku juga
memikirkan dia yang entah memikirkanku juga atau tidak. Akankah nasib cintaku
berakhir dengan tragis atau malah sebaliknya.
Aku
berjalan menuju tempat yang sekarang menjadi persinggahanku. Tepat sekali,
sebuah gubug di sawah yang setiap hari aku singgahi akhir-akhir ini. Siang ini
matahari sangat terik dan aku rasa mentari berjalan mengikuti setiap langkahku.
Tak terasa peluh menetes ke jalan aspal dan menguap terkena paparan cahaya sang
surya. Aroma aspal yang menyengat tidak menyurutkan niatku untuk sekedar
singgah di gubug itu.
Aku
duduk termenung dan lagi-lagi meratapi nasibku yang malang ini. Dapat aku lihat
burung di sana memakan padi yang sudah mulai menguning itu. Aku dapat merasakan
kebahagaiaan mereka karena bisa makan dengan kenyang hari ini.
Saat
sedang asiknya melamun tak kusadari hari sudah mulai sore. Aku beranjak dan
memutuskan untuk pulang. Namun dalam perjalanan pulang aku merasa ada yang
mengikutiku di belakang. Dengan rasa was-was aku tetap berjalan. Kupercepat
langkahku karena rasa takut menyelimuti tubuhku. Hawa dingin merasuki tubuhku yang
dibanjiri oleh peluh keringat.
“Senja”
panggil orang yang berada dibelakangku
Deg tubuhku rasanya kaku dan linu. Suara itu, suara yang
aku nanti selama ini. Suara yang aku rindukan akhir- akhir ini, suara yang
ingin sekali aku dengar saat ini. Aku
mencoba membalikkan badan untuk memastikan bahwa aku tak salah dengar namun
sangat berat. Dengan susah payah aku menghadap kebelakang dan melihatnya.
Tapi
memang benar itulah orangnya. Ku tatap matanya. Tatapan yang penuh dengan
kelembutan,tatapan hangat yang sangat aku rindukan. Oh Tuhan apakah benar orang
yang berada di depanku adalah orang yang aku rindukan selama lima tahun ini.
Dia sudah berbeda dan terlihat dewasa sekarang. Kini bibirnya ditumbuhi rambut
halus tipis. Namun aroma maskulin yang sangat aku hafal masih melekat di
tubuhnya dan masuk menyeruak di rongga hidungku. Alisnya yang tebal dan hampir
menyatu menambah kesan manis pada dirinya.
Tanpa
ku sadari buliran kristal terjun bebas dari pelupuk mata. Memang benar dia
orang yang aku rindukan saat ini. Aku harap ini bukan sekedar dari indahnya
bunga tidur. Aku harap ini adalah kenyataan.
“Aku
datang kesini bukan untuk melihatmu menangis Senja” katanya lagi
“Mas
” panggilku dengan suaraku tercekat di tenggorokan
Aku
menatap matanya dalam, dengan menatap matanya hatiku terasa tenang. Tatapanya
yang lembut seakan membiusku dan membawaku ke dunia lain yang lebih menarik.
“Maafkan
aku tidak berpamitan denganmu dulu ” kataya penuh sesal
“Semudah
itu Mas meminta maaf padaku. Apa Mas tau rasanya menunggu selama lima tahun
tanpa kabar dan tanpa kepastian hah!” kataku sedikit emosi. Buliran bening
terus berjatuhan di pipiku.
“Apa
Mas tau ada seorang pria yang meminangku tempo hari lalu” kataku lagi dengan
nada lirih
“Apakah
kamu menerima pinangan pria itu Senja?” Mas Andre bertanya dengan nada gelisah
Tidak
Mas, karena hanya Mas yang Aku tunggu selama lima tahun ini”
Dapat
kulihat Mas Andre menghembuskan nafasnya dengan lega. Dia juga memberikan
senyum manisnya yang aku yakini dapat melelehkan orang yang melihatnya termasuk
diriku.
“Sudah
ayo kita pulang, hari sudah petang” katanya sembari menggandeng tanganku
Aku
bungkam tidak tau harus berkata apapun lagi. Aku pasrah tanganku digenggam erat
olehnya. Sepertinya dia tidak ingin Aku jauh darinya.
Aku
terdiam melihat rumahku yang ramai seperti sebelumnya. Sempat terlintas di
pikiranku akan ada orang yang melamarku lagi. Jika itu terjadi jelas aku akan
menolaknya bagaimanapun juga. Karena Mas Andre sudah di sisiku lagi saat ini.
“
Kenapa rumahku ramai Mas ?” kataku akhirnya
“Ayo
kita kedalam saja, nanti kamu akan tau jawabanya” jawabnya membuatku makin
penasaran.
Dan
tiba-tiba semua gelap, hanya beberapa lampu dan lilin yang menyala. Lensa
mataku dapat menangkap tulisan di dinding yang sedari tadi ditutupi oleh tirai.
Tetapi tidak terlihat jelas dan aku tidak bisa membacanya. Baru aku sadari Mas
Andre yang sedari tadi di dekatku pegi entah kemana.
Tiba-tiba
lampu menyala dan Mas Andre sudah berada di depan sebuah tulisan ‘Senja Ulia Khasanah Will You Marrie Me’ dengan
membawa kotak berwarna beludru. Terpampang jelas sekarang tulisan yang sulit
terbaca tadi.
“Senja
Aulia Khasanah will you marie me ”
katanya lantang
Aku
hanya terdiam membisu. Apakah ini mimpi atau kenyataan. Jika ini mimpi,
siapapun tolong jangan bangunkan Aku dari mimpi indah ini.
“Senja
Aulia Khasanah will you marie me ”
katanya untuk kedua kalinya
Ramai
orang berkata “Ya” dan akhirnya aku tersadar
dari lamunanku.
“Ya”
kataku malu-malu. Dia memelukku erat dan aku membalasnya lebih erat.
Aku
sangat bahagia. Penantianku selama lima tahun terbayar oleh sebuah cincin yang
dipasang di jari manisku. Penantianku selama ini tidak terbuang sia-sia. Air mata
duka dan rindu yang menggebu berganti tangis kebahagiaan. Terimakasih Tuhan,
berkatmu aku dapat disatukan kembali dengannya selama lima tahun tidak berjumpa
dan bertemu sapa. Pada akhirnya aku merasa bahagia.