Sabtu, 16 April 2022

Pria yang Tepat di Waktu yang Salah


Aku mulai mengenal dan jatuh hati padanya. Entah kapan waktunya aku sungguh tidak menyadarinya. Mulai mengagumi semua tentangnya, mulai dari senyumnya, caranya bicara, dan caranya menatap namun tidak dengan typingnya. Dia pria yang manis, namun dingin seperti es. Cuek seakan tidak peduli, padahal diam-diam mengagumi. Aku bersyukur telah mengenalnya walaupun tidak terlalu lama. Walaupun kami bersekolah di SMP yang sama, namun mulai dekat saat duduk di bangku SMK. Dia telah membuat hari hariku terasa seperti pelangi saat itu. Aku menyebutnya "si manis". Julukan itu aku rasa memang tepat untuknya karena dia mempunyai wajah yang tidak membosankan dan manis seperti gula.

Hari demi hari telah kita lewati, namun kebahagiaan itu sirna seiring berjalannya waktu. Aku pikir ini memang salahku yang telah mengacuhkannya, terlalu sibuk bekerja hingga tidak menghargai perasaannya. Dia datang padaku dan meminta untuk berjumpa. Namun dengan bodohnya aku menolaknya. Setelahnya kita bagaikan orang asing yang tidak saling menyapa.

Hingga suatu ketika datanglah orang lain yang dapat membuat hatiku nyaman dan berbunga. Namun hal ini bersifat sementara, karena ternyata dia menorehkan luka begitu dalamnya. Aku pikir aku adalah rumahnya, tapi ternyata hanya sebagai tempat persinggahan saja. Buliran air menetes dengan pasti dari pelupuk mata. Dia menyakitiku untuk kesekian kalinya, tapi entah kenapa aku sulit melupakannya. Walaupun begitu aku bersyukur telah mengenalnya. Pola pikirnya begitu dewasa hingga pikiranku sedikit terbuka. 

Disaat aku sedang dirundung pilu, "si manis" datang kembali padaku. Pria itu meminta kepastian dariku yang hatinya baru saja terukir luka. Jelas saja aku menolaknya. Tapi ketahuilah bahwa aku sangat menyesalinya. Aku berada disebuah kebimbangan. Aku menyayanginya, namun aku tidak mau memberinya luka. Iya, hatiku rasanya masih belum siap menerimanya kembali. Padahal aku merasa dia adalah satu-satunya pria yang tepat untuk diriku ini. 

Lagi-lagi aku sulit melupakannya. "Si manis" masih terus saja berada di dalam pikiranku. Diam-diam aku sering melihat fotonya atau sekedar melihat whatsappnya, apakah dia sedang online atau tidak. Terkadang jemari ini gatal ingin mengirimkan pesan singkat untuknya, untunglah otakku dapat menahannya. Belum lama ini, dia sempat menceritakan rencana masa depannya. Ternyata diriku dan dirinya mempunyai fantasi yang sama. Aku senang bukan kepalang mendengarnya. Saat itu juga aku merasa bahwa aku masih bisa bersamanya.

Hingga suatu saat aku tidak sengaja membuka catatan di blog miliknya. Dia menuliskan sebuah cerita. Cerita yang cukup menarik namun terkesan jadul haha. Saat aku mulai membacanya, ada yang membuat hatiku berdesir dibuatnya. Ternyata dia ingin menghapuskan diriku dari hidupnya. Iya, "si manis" menuliskan bahwa dia tidak sedang memperjuangkan seorang wanita. Saat membacanya hatiku sedikit linu seperti tertusuk paku. Apakah ini pertanda bahwa aku juga harus melupakannya ?

4 komentar: